Jajaran Pemkab PPU, Direktur Perumda Danum Taka, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD PPU tinjau langsung ke lokasi embung kering di Kelurahan Lawe-Lawe. (diskominfoppu)
SUMBERNUSANTARA.CO.ID, PENAJAM – Jajaran Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara bersama PDAM dan DPRD melakukan peninjauan lapangan di lokasi embung kering Kelurahan Lawe-Lawe, Senin (2/11/2026). Langkah ini diambil sebagai respons darurat terhadap kekeringan yang diprediksi akan semakin ekstrem dalam periode mendatang.
Direktur Perusda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, menjelaskan fokus penanganan saat ini adalah lahan seluas 17 hektare dengan kedalaman 4 meter. Saat ini, kondisi air baku di unit Sotek sudah kering total selama lima bulan, sementara wilayah Babulu berada dalam situasi kritis akibat penurunan debit air.
“Hari ini kami menginisiasi peninjauan ini untuk memberikan penjelasan sekaligus menangkap informasi dari BRIN dan BMKG. Kita akan mendapatkan curah hujan lumayan besar pada periode November ini sampai dengan Februari 2027. Setelah itu, kita akan kembali dihantam kemarau panjang mulai Maret sampai triwulan pertama tahun 2028, yang diprediksi jauh lebih parah dibanding saat ini,” ujarnya.
Menurut Rasyid, pengerjaan embung tersebut sangat krusial agar mampu bertahan selama delapan bulan ke depan. Pihaknya saat ini bekerja sama dengan Dinas PUPR dalam proses pengerukan, dengan bantuan dana operasional bahan bakar sebesar Rp350 juta dari Pertamina. Namun, ia menekankan pentingnya dukungan pendanaan pemerintah daerah karena PDAM belum menerima penyertaan modal selama lima tahun terakhir.
Kondisi krisis saat ini telah membebani masyarakat yang terpaksa merogoh kocek hingga Rp150.000 setiap dua hari sekali untuk membeli air tandon. Pemerintah daerah melalui Asisten II Setdakab PPU, Hadi Saputro, menyatakan pihaknya sedang mengkaji berbagai alternatif teknis termasuk pemanfaatan sistem interkoneksi pipa untuk memastikan ketersediaan air minum bagi warga.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda PPU, Hadi Saputro, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus mengkaji berbagai alternatif teknis guna memastikan ketersediaan air minum bagi masyarakat.
“Kemarin suplai dari Petung yang dihasilkan dari Lawe-Lawe dibackup dari Waru melalui sistem interkoneksi pipa terusan yang kami coba pada Januari dan Februari lalu. Untuk wilayah Penajam sendiri, ada banyak usulan alternatif seperti Embung Lawe-Lawe, Embung PVC, dan lainnya. Apapun itu, secara teknis jika bisa kita kelola akan kita kelola, meski biaya treatment-nya tidak murah,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum musim hujan dalam empat hingga lima bulan ke depan harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memaksimalkan tangkapan air melalui pendalaman embung. Pemerintah daerah berharap dukungan penuh dari DPRD agar pembiayaan proyek ini dapat segera digelontorkan demi kemaslahatan masyarakat menghadapi potensi krisis di tahun 2028. (Adv)

