SUMBERNUSANTARA.CO.ID, PENAJAM – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Wakil Bupati PPU periode 2009–2013 dan 2013–2018, H. Mustaqim MZ, Selasa (15/9/2026).
Mudyat Noor hadir di rumah duka di Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, sekaligus mengantar jenazah almarhum hingga ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kilometer 04 Nenang, Penajam.
Kehadiran Mudyat Noor menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus penghargaan Pemerintah Kabupaten PPU atas jasa dan pengabdian Mustaqim MZ selama menjabat sebagai wakil bupati.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten PPU, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak H. Mustaqim MZ. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” kata Mudyat Noor.
Dalam kesempatan tersebut, Mudyat Noor didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) PPU Tohar serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten PPU.
Sekda PPU Tohar dalam sambutannya turut menyampaikan penghargaan atas pengabdian Mustaqim MZ bagi Kabupaten PPU.
“Atas nama pimpinan dan Pemerintah Kabupaten PPU, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pengabdian beliau bagi daerah yang kita cintai,” ujar Tohar.
Menurut Tohar, selama berada dalam pemerintahan daerah, Mustaqim MZ memberikan kontribusi dalam dinamika, perjalanan, dan perkembangan Kabupaten PPU.
Ia mengajak masyarakat untuk mengenang almarhum melalui kebaikan dan jasa yang telah diberikan selama hidup. Menurutnya, setiap manusia memiliki kekurangan dan kesalahan, tetapi kebaikan seseorang hendaknya tetap dikenang.
“Betapapun hebatnya dan luar biasanya kita, tentu ada sisi-sisi kekurangan. Mari sisi yang kurang baik kita pendam dalam-dalam. Sementara sisi positifnya mari kita ungkap dan kita junjung tinggi agar menjadi cerita kebaikan untuk almarhum,” tuturnya.
Tohar berharap seluruh amal kebaikan yang dilakukan Mustaqim MZ semasa hidup mendapat balasan dari Allah SWT dan menjadi amal yang terus mengalir.
Ia juga menyebut prosesi takziah sebagai momentum untuk merenungkan kehidupan dan kematian. Menurutnya, kematian merupakan pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi hal yang sama.
“Kami berharap mudah-mudahan hikmah dari kita bertakziah mampu melembutkan hati dan rasa kita. Pada akhirnya kita juga akan seperti beliau,” kata Tohar. (*)

