Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) PPU, Mulyono.
SUMBERNUSANTARA.CO.ID, PENAJAM – Penanganan stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran. Program intervensi pangan yang dijalankan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) PPU baru menjangkau sekitar 180 balita, sehingga penambahan dukungan pembiayaan diharapkan dapat memperluas cakupan bantuan bagi anak yang membutuhkan.
Kepala DKP PPU, Mulyono, mengatakan program tersebut menyasar balita yang memerlukan dukungan pemenuhan pangan untuk menunjang pertumbuhan. Meski jumlah penerima belum mencapai 200 anak, pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan penerima bantuan.
“Intervensi balita kemarin tidak sampai 200 anak, sekitar 180-an saja karena anggaran terbatas. Namun, perkembangannya tetap kita pantau dan memang ada perubahan,” ujarnya.
Menurutnya, keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jangkauan program. Karena itu, dukungan pembiayaan yang lebih memadai pada tahun berikutnya diharapkan dapat membuka peluang bagi lebih banyak balita yang membutuhkan untuk memperoleh intervensi pangan.
Selain memperhatikan jumlah penerima, DKP PPU juga menekankan pentingnya ketepatan pemanfaatan bantuan. Mulyono mengingatkan orang tua agar memastikan bantuan pangan dikonsumsi oleh anak yang menjadi sasaran program, bukan dialihkan kepada anggota keluarga lainnya.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut diberikan secara khusus untuk mendukung kebutuhan pangan balita yang memerlukan perhatian dalam pertumbuhannya. Dengan pemanfaatan sesuai peruntukan, tujuan intervensi diharapkan dapat tercapai secara optimal.
“Bantuan itu harus digunakan sesuai peruntukannya, bukan dibagi kepada saudara maupun orang tua. Peran orang tua sangat penting untuk memastikan anak yang menjadi sasaran benar-benar mendapatkan manfaatnya,” tegasnya.
Mulyono menilai penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan penyaluran bantuan pangan. Pemantauan pertumbuhan anak dan keterlibatan keluarga dalam memastikan bantuan dimanfaatkan secara tepat juga menjadi bagian penting dalam proses intervensi.
Di sisi lain, DKP PPU mencatat angka stunting di daerah tersebut mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, pemerintah daerah masih memberikan perhatian terhadap dua desa atau kelurahan yang dinilai perlu menjadi fokus dalam upaya menekan kasus stunting.
Salah satu wilayah yang disebut Mulyono adalah Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan masih perlu dilanjutkan agar penurunan angka stunting dapat terus didorong.
“Angka stunting tahun ini sudah jauh turun. Mudah-mudahan tahun depan kondisi fiskal lebih baik sehingga porsi anggaran untuk Dinas Ketahanan Pangan bisa bertambah,” katanya.
Harapan penambahan anggaran tersebut berkaitan dengan kebutuhan memperluas jangkauan intervensi pangan bagi balita yang memerlukan dukungan. Dengan pembiayaan yang lebih memadai, program diharapkan dapat menjangkau lebih banyak sasaran, disertai pemantauan berkala untuk melihat perkembangannya. (Adv)

