Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro.
SUMBERNUSANTARA.CO.ID, PENAJAM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengurangi jumlah armada pengangkut sampah yang beroperasi dari 16 unit menjadi 12 unit. Kebijakan ini dilakukan untuk menekan biaya operasional di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tanpa menghentikan pelayanan pengangkutan sampah kepada masyarakat.
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, mengatakan pengurangan armada tersebut merupakan langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kebersihan. Meski menghadapi keterbatasan anggaran operasional, pihaknya tetap berupaya mengoptimalkan pengangkutan sampah di wilayah PPU.
“Kami tetap mengoptimalkan pengangkutan meskipun kondisi sekarang sudah tertatih-tatih karena kenaikan BBM,” ujarnya.
Kuncoro menjelaskan, salah satu faktor yang membebani operasional adalah harga BBM jenis Dexlite yang mencapai Rp25.700 per liter. Harga tersebut berdampak pada biaya operasional armada, terutama kendaraan yang memiliki spesifikasi mesin khusus.
Menurutnya, terdapat enam unit truk pengangkut sampah yang tidak dapat menggunakan solar maupun biosolar sehingga harus memakai Dexlite. Kondisi tersebut membuat DLH perlu mengatur penggunaan armada agar anggaran bahan bakar dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.
“Kami melakukan efisiensi dengan harga Dexlite yang saat ini Rp25.700 per liter,” katanya.
Selain mengurangi jumlah armada yang beroperasi, DLH PPU juga mengoptimalkan kapasitas muatan setiap truk. Berdasarkan hasil pemantauan melalui timbangan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Buluminung, sejumlah truk sebelumnya hanya mengangkut sekitar dua ton sampah atau bahkan kurang dalam sekali perjalanan.
Untuk meningkatkan efisiensi, DLH kini menargetkan setiap perjalanan pengangkutan dapat membawa minimal tiga ton sampah. Dengan memaksimalkan muatan, frekuensi perjalanan diharapkan dapat ditekan sehingga penggunaan BBM menjadi lebih hemat.
“Kalau mengangkut satu ton, rugi BBM. Makanya, muatannya kami maksimalkan dan empat unit kendaraan kami siagakan,” jelasnya.
Dari sisi pembiayaan, DLH PPU memperoleh tambahan anggaran sebesar Rp550 juta melalui APBD Perubahan untuk mendukung operasional hingga akhir tahun. Namun, kebutuhan bahan bakar dinas diperkirakan mencapai Rp200 juta per bulan sehingga pengelolaan anggaran harus dilakukan secara cermat.
Anggaran BBM tersebut digunakan untuk mendukung pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara menuju TPA Buluminung, termasuk operasional alat berat untuk meratakan sampah di lokasi pemrosesan akhir.
Ke depan, DLH PPU juga berencana melengkapi sarana pengangkutan dengan kendaraan roda tiga berbahan bakar Pertalite. Kendaraan tersebut direncanakan untuk menjangkau lorong-lorong permukiman yang sulit dilalui truk sekaligus menekan biaya operasional. (Adv)

