Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar.
SUMBERNUSANTARA.CO.ID, PENAJAM – Kemarau berkepanjangan mulai menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, khususnya terhadap keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat.
Kondisi minim hujan berpotensi menggeser jadwal musim tanam yang umumnya berlangsung pada September. Jika hujan belum turun pada periode tersebut, petani diperkirakan baru dapat kembali menanam pada Oktober, November, bahkan Desember.
Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar mengatakan, dampak kemarau mulai dirasakan petani. Tanaman yang telah ditanam terancam kekurangan pasokan air, sedangkan petani yang seharusnya memasuki masa tanam berikutnya masih harus menunggu kondisi cuaca.
“Yang memang sudah nanam juga tidak terasuh dengan air. Sedangkan yang satunya tidak bisa tanam karena masih melihat kondisi cuaca,” kata Tohar.
Menurut dia, pergeseran waktu tanam sangat bergantung pada datangnya hujan. Siklus pertanian yang biasanya memasuki masa tanam pada September dapat berubah apabila curah hujan belum mencukupi.
“Yang semestinya sudah bisa tanam, siklus kita kan biasanya nanti di September. Kalau September juga belum turun hujan, nanti mungkin di Oktober, November atau Desember barangkali kita mengikuti kehendak alamnya,” katanya.
Tohar menambahkan, mundurnya musim tanam juga dapat menciptakan jeda panjang antara periode panen sebelumnya dan penanaman berikutnya. Akibatnya, sebagian lahan pertanian berpotensi tidak dimanfaatkan sementara waktu karena petani belum memiliki cukup air untuk kembali mengolah dan menanaminya.
“Ada jeda waktu yang relatif panjang dari hasil panen gaduh kedua dan ketiga ke musim tanam primanya. Ada media tanamnya yang tidak sempat digunakan,” jelasnya.
Pemkab PPU pun perlu mengantisipasi dampak kemarau yang tidak hanya berpengaruh terhadap kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga terhadap keberlangsungan sektor pertanian. Kepastian turunnya hujan menjadi salah satu faktor penting bagi para petani untuk kembali menjalankan siklus tanam, sehingga kondisi cuaca dan ketersediaan air perlu menjadi perhatian dalam menjaga produktivitas pertanian di wilayah tersebut. (Adv)

